Mecintai tak harus memiliki…

24 Nov

weeeww..judulnya dalem bener ya..tapi itu yg akan gw bahas..Namanya mencintai pastinya ingin untuk memiliki. Betul?Sapa seh yg ga mao.memiliki apa yang udah kita sayang.Gila aja udah kita sayang tapi ternyata sia – sia aja.Kasus seprti itu ternyata banyak yang terjadi..bahkan di sekitar gw.

Mencintai dapat diartikan sebagai suatu aktivitas menyayangi, menyimpan perasaan cinta dan membagi rasa sayang (ciee..cieee prikitiiw Ehmm..).

Sedangkan memiliki dapat berarti menjadikan milik, menjadi yang empunya, mempunyai dan berhak atas sesuatu.

So, in a short, pernyataan “mencintai tanpa harus memiliki” dapat diartikan secara lengkap sebagai mencintai dan menyayangi sesuatu (bisa barang atau orang) tetapi sayangnya sesuatu itu bukan merupakan milik kita. Hah? Kok bisa? Ya bisa lah namanya juga hidup. Semua yang sekilas tidak bisa tetapi sesungguhnya sangatlah bisa dan mungkin terjadi.

Ya klo mencintai tak memiliki barang mah itu biasa..lah ini mencintai seseorang tanpa memilikinya.apa bukan masalah besar?

Dalam situasi percintaan misalnya (dan memang seringkali terjadi)Yaitu kondisi mencintai seseorang yang sudah menjadi pasangan orang lain atau seseorang yang kita taksir tersebut tidak membalas rasa sayang kita. Huuu.. sedih bgt ya… 😦. n klo di english2 seh kaya gini neh this statement applied to a condition that we are loving somebody whom already engage or became a partner of someone else, or in extreme that person doesn’t have a same filling as ours..

akhirnya muncul juga kata “gw sayang sama lo..gw bersyukur punya rasa sayang sama lo even gw tau gw ga akan pernah bisa miliki elo”  widihh cadas!!! ;))

Kata bapak TB..wew gw ko jadi demam bapak TB ya…hihihihi ;)) kata  filsafat cinta..(kaya yg ngerti filsafat aja) hal ini dapat terjadi dalam bentuknya yang lain, biarlah bumi dan langit menjadi saksi bahwa betapa aku mencintaimu, tetapi demi air yang selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah karena efek gravitasi dan energy potensial yang ada di dalamnya.. (halaaaah jadi membahas hukum Fisika.. hehe..). Biarlah semua menjadi saksi bahwa aku mencintaimu, aku menyayangimu dengan sepenuh hati dan perasaanku (dalem bo), biarlah.. biarlah itu terjadi.. aku bahagia bila dirimu bahagia, aku menderita bila dirimu sedih (huahahaha lebai bgt seh gw). Biarlah perasaan cinta ini hanya aku dan yang mempunyai diriku saja yang tahu (hmm.. yang lain ga usah tahu ya?… hihi..). Kemanapun dirimu pergi, apapun yang kamu lakukan, biarlah rasa cinta dan sayangku tetap menyertaimu.. hiks.. jadi terharu.hehehe..

Yang namanya Rasa cinta dan sayang itu memang bener ga bisa dipaksain, ga bisa diduga,ga bisa direncanain,ga bisa di dikendaliin, engga bisa diduga,engga dan engga  lainnya (tambahin deh..),

Cinta yang sejati, katanya (iya ini katanya lho..) adalah mencintai dan menyayangi orang tersebut, membiarkan orang itu hidup dalam dunia kebahagiannya sendiri tanpa harus selalu dimiliki oleh kita. Sehingga muncul pula kalimat yang senada dengan itu, yaitu tujuan dari mencintai adalah memberikan atau membiarkan kebahagian bagi orang yang kita cintai itu, even tanpa harus memilikinya. Ooo… (kenapa ooo..? lha iya kalau i kan jadi iii… hihihi…).

So the next topic adalah, apa yang harus kita lakukan apabila mengalami hal tersebut?

It depends.., hah apaan? Ujug-ujugly it depends? :P udah kaya basket ja pake defends

Iya it depends on our current situation. In general, there are two major conditions.

The first one.. (halaah.. jadi English class begini).. okay.. kondisi pertama adalah apakah kita sedang mencoba untuk menjalin hubungan dengan seseorang saat ini? And the second case adalah apakah kita sudah menjalin hubungan dengan sesorang dalam bentuk pasangan hidup.,pacar or isteri / suami

Untuk kasus pertama, it’s relatively easy.. (hmm.. bener gitu?) situasinya adalah begini: kita sedang mencoba untuk menjalin hubungan dengan sesorang yang kita taksir (iya dong.. kalo ga ditaksir mah ga bakalan.. hehe..). Kalau ternyata yang kita taksir tersebut tidak bersedia untuk menerima cinta kita, in other words: single hand clapping (bertepuk sebelah tangan maksudnya hehehe..) ya sudahlah, karena ingat rumusan Fisika di atas, eh salah.. rumusan di atas, yaitu cinta adalah sesuatu yang tidak bisa kita pakasakan, iya dong.. kita tidak bisa memaksakan kehendak kita agar cinta kita diterima olehnya.

Kalau dengan segala cara kita sudah berusaha agar dapat merebut perhatiannya, tetapi tetap tak terebut juga (hihi..), ya sudahlah, ikhlaskan saja, dia memang bukan untuk kita, bukan jodoh kita, bukan kepadanya cinta ini harus berlabuh (hehe.. perahu kali berlabuh). Relakan saja, masih banyak calon-calon lain yang mungkin mau menerima cinta kita. Kuncinya adalah ikhlas, ridhlo dan tawakal.. (duuh .. wise nya.. hehe..)

Kasus kedua.. hmm.. ini mah kasus yang berat dan tidak gampang alias susah tea..

Situasinya adalah kita sudah mempunyai pasangan hidup masing-masing, tetapi kita mencintai dan menyayangi orang lain (waduuh.. kok bisa ya… hihihi..).

Jangan deh sayang.. jangan sampai terjebak dalam perasaan itu apabila kita sudah berpasangan, kasihan dong nanti malah pasangan kita yang tidak berbahagia. Padalah katanya (katanya lagi nih..) kita ini berpasangan untuk mencari dan memperoleh kebahagiaan secara mutual (bersama). Bila berada dalam kondisi ini, biarlah, izinkanlah, relakanlah perasaan cinta itu lewat begitu saja. Jangan sampai deh bahtera rumah tangga yang sudah kita bangun ini terguncang dan karam karena riak-riak revolusi.. eh, maksudnya karena riak-riak cinta yang lain.

Banyak sudah kita belajar dari orang lain, apakah itu kenalan, tetangga, public figure, politisi, selebritis yang rumah tangganya hancur akibat cinta yang tidak bisa dimiliki, yang pada akhirnya justru memberikan ketidakbahagiaan pada semuanya. Duuh.. ga tau ya.. jarang nonton berita gossip sih.. Waduh.. iya aja deh biar cepet.. ya?..ya? Iyaaaaa… hehe.. :D

So, in conclusion, pernyataan “mencintai tanpa harus memiliki” adalah sesuatu yang benar dan seringkali terjadi sebagai bentuk dari pelarian atas keputusasaan dan ketidakberdayaan kita akibat orang yang kita cintai tidak membalas atau hal-hal lain yang membuat kita tidak bisa membagi perasaan cinta yang sekarang karena “terlanjur” sudah mempunyai pasangan.

Percayalah, bagi yang belum berpasangan, di ruang dan bagian dunia yang lain pastilah ada sesorang yang sedang menunggu kita, menanti untuk menjadi soulmate kita, hanya saja mungkin no antriannya kebagian nanti, selepas jam 10 malam.. (halaah.. memangnya ke dokter hihi..).

Bagi yang sudah berpasangan, yakinlah bahwa pasangan yang sekarang adalah given, atau pemberian dari Tuhan untuk menemanimu. Sayangilah dia, bahagiakanlah dia.

So..it defends..jangan sampe terjebak dalam hubungan yang sangat rumit.wkwkwkwkwk..

2 Responses to “Mecintai tak harus memiliki…”

  1. ria November 24, 2010 at 17:47 #

    mencintai memang tidak harus memiliki, kalo harus memiliki itu namanya psycho, hahahaaaa…. *ahh, teoriiiii…wakwkwkkkkk…..

    • bheean November 24, 2010 at 19:43 #

      weewww..beneran kali bu!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: